Friday, July 2, 2010

Thank you was all I need




" Thank you for contributing, Sir. And thanks for listening too. "

I replied, briefly, " You're most welcome, do keep up the good work, " and with a big smile, I left the Chinese lady I was talking to, who is a fundraiser for The Budimas Charitable Foundation. BUDIMAS is a reknown organisation in Malaysia, heavily involved in the care of orphaned and underprivileged children in the country.

I was approached by the lady who was at her Budimas booth, just as I was about to enter into the Cold Storage supermarket in Subang Parade. As our conversation ended and I made my way into the supermarket, I suddenly thought to myself about her very last sentence to me before we parted ways.

"...And thanks for listening too."

Those few words might not mean anything to some, but I took it quite profoundly for unknown reasons. To me, it showed the deep appreciation of the fundraisers to the people who actually did spare a few of their precious minutes to stop, and listen to what they have to say. I'm sure the fundraisers must have gotten so used to people ignoring them, passing by them as if they are not there.

That was when I told myself,

" I think I should thank you instead. For persevering to approach people even though mostly ignored you. For persevering to do a noble cause for the benefit of someone else and not just for yourself. "

I will always have a soft spot for altruism.


@>---~---<@

Last weekend, I was privileged to be invited as the main speaker in a summercamp event which took place in Sungai Congkak, Hulu Langat. The event, called " Weekend with AJ " with the main theme, " Transformers : Rise of The Fallen ", was participated by Malaysian university students from both local and foreign (ie United Kingdom and Ireland) institutions. The event was organised by a group of aspiring Malaysian students from Cork, Ireland who named their association as AtapHijau. The other invited speaker was my dearest friend, Imran Koyube, who is the current President and co-founder of the impressive ILuvIslam.

I was entrusted with the responsibility of delivering talks on four different topics, with my sessions being on Saturday morning and evening, as well as Sunday morning. Even though I could claim to be quite used to giving talks to vibrant youths via my personal experiences in the past, never have I been asked to become the main speaker for an event, and to deliver as many as four talks. Given the fluctuating state of my health condition, I was slightly concerned that I wouldn't be able to live up to the expectations of the organizers. What more, the organizers seemed to have done tremendous work in ensuring that the event would be a successful one, thus I know the talks must be equally impressive to achieve the objectives already listed.


Even though there were slight doubts on whether I would be able to cope given my health condition, I believed I could do this. An immense task it seems, the thought of contributing my part in developing my society just seemed an opportunity too hard to resist. A similar situation happened back in December 2009, when I decided to accept the invitation to give a talk in a winter camp event in Birmingham, United Kingdom, just a few weeks after having my high dose chemotherapy and autologous stem cell transplant. I just love the thought of 'giving' to others, thus providing me with the strength to withhold any challenges that might come my way.

The main challenge I discovered in delivering my talk in Sungai Congkak was the travels I had to make, which had its toll on my stamina. I decided to commute to Sungai Congkak on both days of my talk instead of staying at the event's accommodation for two reasons;

i) my strict diet regime makes it easier for me to have my meals at home.

ii)I was worried that I might not get good rest at the venue's accommodation and thus possibly affecting my performance to deliver the talks.


Every trip would take me about 45 minutes, longer if the traffic was congested. On Saturday, I made 4 trips altogether, back and forth, that by the time I reached home that night, I was totally knackered. Tired I was, I still had to finish up the powerpoint slides for the next day's talk and I must admit, a sense of frustration almost crept in. I almost blamed it on my cancer, believing that the Mas Afzal 3 years ago, free from cancer, would never struggle with this sort of pace.

But that was when I put such negative thoughts aside, and reminded myself to be thankful to Allah that in spite of my condition, I am not bed-ridden, in fact I'm well alive and kicking. That's more than I can ask, given my state. Eventually, I opened up my laptop and got on with completing my slides for the next day. Aiysha, my dearest sister, kindly enough gave me a therapy massage of my head and shoulder just to ease the accumulating tension building in my head. Mom, as usual, provided me with the words of encouragement. That's what families are for, aren't they?

In the end, I was generally satisfied with the talks I've delivered throughout the two days. There will inevitably be some loopholes here and there in my presentation, but these are always rooms for improvements. All I can hope for is that the participants, the youthful leaders of our future, have benefited from the content of my talks and are inspired to play their part to the society.

I wish I could tell each and everyone of them, that

" If I am not letting this terminal cancer of mine stopping me from 'giving' to humanity, then what more for them, all fit and well. Let us all RISE to glory! "

When some of the participants came up to me personally before I left the place and said,

" Terima kasih abang. "

that was all that I needed to rejuvenate my tired mind, body and soul. Looking at their bright faces and witnessing the exuberance radiating from it is a therapy to the pain I suffer from my cancer. I guess it's true what they say, it is in giving that we actually receive. We receive the satisfaction in life. We receive the true meaning of being alive, that is to be of benefit to others.


And the best people are indeed those who are most helpful or beneficial for other people. Allah knows best.

Wednesday, June 9, 2010

Di Atas Sejadah Cinta

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa.

Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang memanggilnya “Zahid” atau “Si Ahli Zuhud”, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.

Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci.

Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,

“fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.

qad aflaha man zakkaaha.

wa qad khaaba man dassaaha

…”
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,

sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,

dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya

…)

Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang merugi?

Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pingsan.


***

Sementara itu, di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana. Lampu-lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap-kerlip bagai bintang gemintang. Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun kurma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam salah satu kamarnya, tampak seorang gadis jelita sedang menari-nari riang gembira. Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu. Kecantikannya sungguh memesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair-syair cinta,

“in kuntu ‘asyiqatul lail fa ka’si

musyriqun bi dhau’

wal hubb al wariq

…”

(jika aku pencinta malam maka

gelasku memancarkan cahaya

dan cinta yang mekar

…)


***

Gadis itu terus menari-nari dengan riangnya. Hatinya berbunga-bunga. Di ruangan tengah, kedua orangtuanya menyungging senyum mendengar syair yang didendangkan putrinya. Sang ibu berkata, “Abu Afirah, putri kita sudah menginjak dewasa. Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan.”

“Ya, itu syair-syair cinta. Memang sudah saatnya dia menikah. Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir. Dia melamar Afirah untuk putranya, Yasir.”

“Bagaimana, kau terima atau…?”

“Ya jelas langsung aku terima. Dia ‘kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya. Dialah yang dulu menolong kita waktu kesusahan. Di samping itu Yasir itu gagah dan tampan.”

“Tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?”

“Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok untuk Afirah adalah Yasir.”

“Tapi, engkau tentu tahu bahwa Yasir itu pemuda yang tidak baik.”

“Ah, itu gampang. Nanti jika sudah beristri Afirah, dia pasti juga akan tobat! Yang penting dia kaya raya.”


***

Pada saat yang sama, di sebuah tenda mewah, tak jauh dari pasar Kufah. Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman-temannya. Tak jauh darinya seorang penari melenggak lenggokan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling.

“Ayo bangun, Yasir. Penari itu mengerlingkan matanya padamu!” bisik temannya.

“Be…benarkah?”

“Benar. Ayo cepatlah. Dia penari tercantik kota ini. Jangan kau sia-siakan kesempatan ini, Yasir!”

“Baiklah. Bersenang-senang dengannya memang impianku.”

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari. Sang penari mengulurkan tangan kanannya dan Yasir menyambutnya. Keduanya lalu menari-nari diiringi irama seruling dan gendang. Keduanya benar-benar hanyut dalam kelenaan. Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ketelinga Yasir,

“Apakah Anda punya waktu malam ini bersamaku?”

Yasir tersenyum dan menganggukan kepalanya. Keduanya terus menari dan menari. Suara gendang memecah hati. Irama seruling melengking-lengking. Aroma arak menyengat nurani. Hati dan pikiran jadi mati.


***

Keesokan harinya.

Usai shalat dhuha, Zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota. Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit. Ia berjalan dengan hati terus berzikir membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit.

Zahid berjalan melewati kebun kurma yang luas. Saudaranya pernah bercerita bahwa kebun itu milik saudagar kaya, Abu Afirah. Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun kurma itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam. Ia terus berjalan dan titik hitam itu semakin membesar dan mendekat. Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda. Lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara,

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya. Ia menghentikan langkahnya. Penunggang kuda itu semakin jelas.

“Toloong! Toloong!!”

Suara itu semakin jelas terdengar. Suara seorang perempuan. Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan. Kuda itu berlari kencang.

“Toloong! Toloong hentikan kudaku ini! Ia tidak bisa dikendalikan!”

Mendengar itu Zahid tegang. Apa yang harus ia perbuat. Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya. Cepat-cepat ia menenangkan diri dan membaca shalawat. Ia berdiri tegap di tengah jalan. Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras,

“Hai kuda makhluk Allah, berhentilah dengan izin Allah!”

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya, kuda itu meringkik dan berhenti seketika. Perempuan yang ada dipunggungnya terpelanting jatuh. Perempuan itu mengaduh. Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya,

“Assalamu’alaiki. Kau tidak apa-apa?”

Perempuan itu mengaduh. Mukanya tertutup cadar hitam. Dua matanya yang bening menatap Zahid. Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

“Alhamdulillah, tidak apa-apa. Hanya saja tangan kananku sakit sekali. Mungkin terkilir saat jatuh.”

“Syukurlah kalau begitu.”

Dua mata bening di balik cadar itu terus memandangi wajah tampan Zahid. Menyadari hal itu Zahid menundukkan pandangannya ke tanah. Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid, ia membuka cadarnya. Dan tampaklah wajah cantik nan memesona,

“Tuan, saya ucapkan terima kasih. Kalau boleh tahu siapa nama Tuan, dari mana dan mau ke mana Tuan?”

Zahid mengangkat mukanya. Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih memesona. Hatinya bergetar hebat. Syaraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat. Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona oleh ketampanan Zahid, sementara gemuruh hati Zahid tak kalah hebatnya. Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona, Zahid tersadar, ia cepat-cepat menundukkan kepalanya. “Innalillah. Astagfirullah,” gemuruh hatinya.

“Namaku Zahid, aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit.”

“Jadi, kaukah Zahid yang sering dibicarakan orang itu? Yang hidupnya cuma di dalam masjid?”

“Tak tahulah. Itu mungkin Zahid yang lain.” kata Zahid sambil membalikkan badan. Ia lalu melangkah.

“Tunggu dulu Tuan Zahid! Kenapa tergesa-gesa? Kau mau kemana? Perbincangan kita belum selesai!”

“Aku mau melanjutkan perjalananku!”

Tiba-tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid. Terang saja Zahid gelagapan. Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya. Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini.

“Tuan aku hanya mau bilang, namaku Afirah. Kebun ini milik ayahku. Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini. Jika kau mau silakan datang ke rumahku. Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu. Dan sebagai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini.”

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda.

“Tidak usah.”

“Terimalah, tidak apa-apa! Kalau tidak Tuan terima, aku tidak akan memberi jalan!”

Terpaksa Zahid menerima sapu tangan itu. Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar. Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.


***

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya, kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir.

Afirah terpekur di kamarnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian tadi pagi di kebun kurma hatinya terasa gundah. Wajah bersih Zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya. Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat. Pembicaraan orang-orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama Zahid semakin membuat hatinya tertawan. Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya. Tiba-tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata,

“Inikah cinta? Beginikah rasanya? Terasa hangat mengaliri syaraf. Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya Rabbi, tak aku pungkiri aku jatuh hati pada hamba-Mu yang bernama Zahid. Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta. Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya.”

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada Zahid. Tiba-tiba ia tersenyum,

“Ah sapu tanganku ada padanya. Ia pasti juga mencintaiku. Suatu hari ia akan datang kemari.”

Hatinya berbunga-bunga. Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya.


***

Sementara itu di dalam masjid Kufah tampak Zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar. Ia menangisi hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirah di kebun kurma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya. Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung-relung hatinya. Aura itu selalu melintas dalam shalat, baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia kerjakan. Ia telah mencoba berulang kali menepis jauh-jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyu’-khusyu’-nya namun usaha itu sia-sia.

“Ilahi, kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu. Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.” Isak Zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.

Zahid terus meratap dan mengiba. Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada Tuhan. Rasa takut akan azab-Nya. Rasa cinta dan rindu-Nya pada Afirah. Dan rasa tidak ingin kehilangannya. Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya. Dalam puncak munajatnya ia pingsan.

Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belom shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya. Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

“Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah maka berilah kekuatan!”

Ia lalu bangkit, wudhu, dan shalat tahajjud. Di dalam sujudnya ia berdoa,

“Ilahi, hamba mohon ridha-Mu dan surga. Amin. Ilahi lindungi hamba dari murkamu dan neraka. Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah pada-Mu, hamba terlalu lemah untuk menanggung-Nya. Amin. Ilahi, hamba memohon ampunan-Mu, rahmat-Mu, cinta-Mu, dan ridha-Mu. Amin.”


***

Pagi hari, usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota. Tujuannya jelas yaitu melamar Afirah. Hatinya mantap untuk melamarnya. Di sana ia disambut dengan baik oleh kedua orangtua Afirah. Mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota. Afiah keluar sekejab untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya. Zahid mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu melamar Afirah.

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang. Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya. Keheningan mencekam sesaat lamanya. Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya. Lalu terdengarlah jawaban ayah Afirah,

“Anakku Zahid, kau datang terlambat. Maafkan aku, Afirah sudah dilamar Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu, dan aku telah menerimanya.”

Zahid hanya mampu menganggukan kepala. Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya. Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya. Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca. Sementara Afirah, lebih tragis keadaannya. Jantungnya nyaris pecah mendengarnya. Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga.


***

Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira. Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah. Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya. Ia pun jatuh sakit. Suhu badannya sangat panas. Berkali-kali ia pingsan. Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya. Ia sering mengigau. Dari bibirnya terucap kalimat tasbih, tahlil, istigfhar dan … Afirah.

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah. Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah. Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek,


Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku. Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini. Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu. Tak bisa kuingkari, aku pun mengalami hal yang sama. Kaulah cintaku yang pertama. Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama-lamanya.

Zahid,

Kalau kau mau. Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua. Pertama, aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta. Atau kau datanglah ke kamarku, akan aku tunjukkan jalan dan waktunya.


Wassalam

Afirah

===============================================================

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya. Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid. Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya. Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga.

Hari itu juga surat Afirah sampai ke tangan Zahid. Dengan hati berbunga-bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya. Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak-banyaknya. Dengan berlinang air mata ia menulis untuk Afirah :


Kepada Afirah,

Salamullahi’alaiki,

Benar aku sangat mencintaimu. Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata-mata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini karena aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah ‘Azza Wa Jalla’. Inilah yang kudamba. Dan aku ingin mendamba yang sama. Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

Afirah,

Kedua tawaranmu itu tak ada yang kuterima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari surga. Bukan air timah dari neraka. Afirah, “Inni akhaafu in ‘ashaitu Rabbi adzaaba yaumin ‘adhim!” ( Sesungguhnya aku takut akan siksa hari yang besar jika aku durhaka pada Rabb-ku. Az Zumar : 13 )

Afirah,

Jika kita terus bertakwa. Allah akan memberikan jalan keluar. Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis pada-Nya. Tidak mudah meraih cinta berbuah pahala. Namun aku sangat yakin dengan firmannya :

“Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (yaitu surga).”

Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan. Selanjutnya Allahlah yang menentukan.

Afirah,

Bersama surat ini aku sertakan sorbanku, semoga bisa jadi pelipur lara dan rindumu. Hanya kepada Allah kita serahkan hidup dan mati kita.

Wassalam,

Zahid


===============================================================


Begitu membaca jawaban Zahid itu Afirah menangis. Ia menangis bukan karena kecewa tapi menangis karena menemukan sesuatu yang sangat berharga, yaitu hidayah. Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda saleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya.

Sejak itu ia menanggalkan semua gaya hidupnya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat. Sorban putih pemberian Zahid ia jadikan sajadah, tempat dimana ia bersujud, dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah SWT. Siang ia puasa malam ia habiskan dengan bermunajat pada Tuhannya. Di atas sajadah putih ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah, yaitu cinta kepada Allah SWT. Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah. Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah SWT.

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah :


Kepada Zahid,

Assalamu’alaikum,

Segala puji bagi Allah, Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hamba-Nya yang bertakwa. Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan Yasir. Beliau telah terbuka hatinya. Cepatlah kau datang melamarku. Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasululullah SAW. Secepatnya.


Wassalam,

Afirah

===============================================================

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah. Bunga-bunga cinta bermekaran dalam hatinya. Tiada henti bibirnya mengucapkan hamdalah.



Dapatkan Mesej Bergambar di Sini

Monday, May 17, 2010

How Are You Today?

Doctor and Sick People

When you sick, you pay a visit to a doctor. But, how did you know that you are sick before visiting a doctor? The point is, you do have some sort of idea that you are sick even before you were actually diagnosed. How??? Yup.... because you recognize the presence of 'symptoms'. It can be mild cough, irregular heart beat, rise in body temperature, rashes, or just about any abnormalities you could figure. Although you couldn't figure exactly what kind of health problems you currently have, but you do realize that ... 'I need help!'

Help! Help!~
Did you realize that a doctor couldn't treat a patient without the patient's written consent?? (or maybe guardian in some cases). So the only person that can help you is your own self!~ (or maybe someone close to you in some cases). People can insist you to get help but in the end, you are the only one who can help yourself. To get help means to admit that you are sick! But nothing could be done to improve your health prior to you admitting the sickness you are having.

First Line of Defense
Since getting help seems like a complicated process, then, maybe it would be better for us to maintain or improving our health on daily basis? Let me see... exercising? good diet?


So brothers and sisters, just a couple of question..

How are you today?
Are you sick?
Do you need to see a doctor?
Are you maintaining a good healthy lifestyle?


Okay, lets try this question one more time. But this time try to answer in terms of your soul's well being~

How are you today?
Are you sick?
Do you need to see a 'doctor'?
Are you maintaining a good 'healthy' lifestyle?


Alhamdulillah~
All praises to Allah.

Sunday, April 11, 2010

Misteri Dan Hebatnya Makna Cantik



Usah terkejut kalau ada orang melahirkan rasa hatinya
pada anda, sedangkan anda merasakan tiada apa-apa
istimewanya anda. Begitulah hebat dan misterinya
kehidupan. Ukuran manusia tentang kecantikan dan
ketampanan memang tidak pernah sama. Ada orang mabuk
dengan seseorang sedangkan menurut pandangan orang
lain, wajah semacam itu tidak patut dimabuk-mabukkan.



Misterinya suara hati memang sukar dibaca. Tidak ada
sebarang alat untuk mengukur makna cantik atau tampan
pada seseorang. Ukuran cantik atau tampan ini sentiasa
berlainan antara seseorang dengan seorang yang lain.

Maka itu, usah hairan jika seseorang wanita dinobatkan
sebagai ratu dunia, padahal ramai lagi wanita di
pejabat kita yang kita rasakan mengatasi kecantikan
ratu itu. Begitu juga, mungkin ada wanita di kampung
kita, kita rasakan lebih cantik daripada para model
yang popular. Sebab apa? Sebab persepsi kecantikan
tidak pernah sama antara manusia. Ada orang anggap
hidung yang sedikit mancung sebagai cantik, ada orang
tidak. Ada orang rambut yang mengurai sebagai cantik,
ada orang menganggap rambut yang ditutup sebagai
kecantikan yang mengatasi. Ada orang menganggap putih
melepak itu sebagai cantik ada orang suka yang hitam.

Ada orang mentafsirkan kecantikan itu mata yang bundar
tetapi ada orang merasakan yang sepet seperti Jepun
atau Cina itu yang lebih menawan. Ada orang menganggap
bibir yang nipis itu cantik tetapi ada juga orang yang
mengatakan bibir tebal lebih mengancam.

Di sebuah kawasan terpencil di utara Thailand,
terdapat sekelompok manusia yang mentafsirkan cantik
itu leher yang jinjang. Maka, para wanita memakai besi
lilit di leher untuk memanjangkan leher masing-masing.
Alangkah seksanya untuk menjadi cantik menurut
penilaian masyarakat ini.

Begitu juga di sebuah penempatan di Afrika, cantik
ditafsirkan mulut yang lebar. Semakin lebar mulut
semakin cantiklah mengikut ukuran kelompok ini. Maka
para lelaki dan para wanitanya memakai piring besi
berbentuk bulat di mulut. Piring ini ditukar kepada
yang lebih besar dari semasa ke semasa.

Begitulah misteri dan luasnya makna cantik dan tampan.
Jadi, usah terlalu susah hati jika anda merasakan anda
tidak begitu menarik. Anda tetap cantik di mata orang
yang mentafsirkan kecantikan itu bukan sekadar wajah
tetapi mungkin keseluruhan anda. Ini termasuklah gaya
jalan anda, cara nada bertutur, pendirian serta sikap
anda terhadap sesuatu perkara.

Jika anda belum mendapat teman bukan cantik
masalahnya, cuma anda belum bertemu dengan orang yang
mentafsirkan cantik itu menurut apa-apa kelebihan yang
ada pada diri anda.

Sebenarnya tiada manusia yang buruk, lantaran setiap
daripada kita ini dicipta oleh Tuhan yang Maha
Bijaksana. Masakan ciptaan Tuhan itu tidak cantik,
malah dalam islam kecantikan bukan terletak pada wajah
atau keturunan tetapi apa yang ada di dalam hati. Baik
sang hati baiklah seluruh badan, jahat sang hati
jahatlah seluruh badan. Agama menilai kecantikan itu
iman yang teguh, kukuh dan padu.

Siapa kita untuk mempertikaikan ciptaan-ciptaan TUHAN.
Sudah tentu kita tidak layak. Tetapi ramai orang
mempertikai TUHAN setiap kali menghadap cermin.
Berkacalah tatkala bercermin sebab dengan berkaca
cermin akan memberitahu anda apakah anda yang berdiri
di situ atau perasaan dan keegoan anda yang menampani.

Siapa anda, anda sendiri yang menentukan. Pandangan
manusia semuanya tidak sama. Sejuta yang mengatakan
anda tidak indah, sepuluh juta mungkin mengatakan yang
sebaliknya. Hanya anda belum bertemu muka dengan yang
sepuluh juta itu.

Itu saja yang membezakan.

Friday, April 9, 2010

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya. "Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu, tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati." Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?" Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?" Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"

Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?" Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah s.w.t. dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah s.w.t. dalam sebuah hadith Qudsi,:
"Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:

" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabda Rasulullah s.a.w pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

Thursday, April 1, 2010

Si Pendek Yang Menyusahkan

Petang itu saya bersama ibu, melihat satu rancangan National Geographic berkenaan tentang bagaimana usaha sekumpulan jurutera yang berusaha memindahkan rumah yang besar ke satu tempat lain dengan cara memisah-misahkan rumah itu kedalam bentuk kepingan dan dicantumkan kembali pada satu tapak rumah yang baru. Itu dinegara "omputih". Di kampung kita juga ada. Lagi "otai", tidak pisah tetapi angkat dengan rumah-rumah dengan kudrat manusia.

" Dulu, kat kampung masih ada tradisi pindah rumah ini. Ingat lagi orang kampung duk angkat rumah tok bersama-sama guna kayu," saya mengimbau kenangan.

" Ibu, masa kecik-kecik dulu, kalau ada orang yang pindah rumah, suasana memang meriah. Program mula dari malam lagi. Dengan masaknya, dengan riuh rendah orang kampung," ibu berkongsi.

Itu dahulu, generasi sekarang tidak lagi berkesempatan melihat antara budaya dan tradisi masyarakat kampung kita. Dengan barang yang pelbagai dan berat,mahupun majoriti rumah batu, tradisi ini tidak mungkin sama sekali diamalkan lagi.

Tidak boleh Angkat, Jangan Bergantungan.

" Kita dalam perjuangan, jika tidak mampu tolong, jangan menyusahkan. Macam orang angkat rumah untuk ke satu tapak yang lain. Jika orang pendek itu tidak mampu mengangkat rumah, jangan bergantung! Begitu juga dengan Islam. Jika tidak suka dengan orang menjuangkan Islam, jangan susahkan orang yang mahu memperjuangkan Islam. Ia amat-amat satu perbuatan mungkar !," jelas Ustaz Tuan Ibrahim Tuan Man.



Inilah kalimat yang masih segar dalam ingatan selepas mendengar ceramah Ustaz Tuan Ibrahim. Satu analogi yang cukup tuntas dan tegas dalam membicarakan fenominal ini.

Oleh kerana itu, bila sahaja melihat cerita di TV itu, terus ingatan tentang kata-kata beliau itu hadir kembali. Ia amat tepat menjelaskan permasalahan ummah hari ini.

" Ingat baik sangatlah tu. Depan je baik,belakang setan!"

" Weh, tak payah la nasihat-nasihat aku. Kubur masing-masing beb!."

" Ooo..cakap pasal hudud. Siaplah ko...aku report ke Pejabat Agama."

" Baik ko tidak pergi majlis tu. Meh keluar dengan aku tengok wayang, lagi best dari dengar mereka duk membebel...pot pet pot pet."

Kata-kata yang sering kita dengar dari muslim yang takwanya tiada. Mereka Islam, tetapi hati penuh kebencian, mata berbulu melihat muslim lain bicara soal Islam, berjuang didalam Islam. Memiliki salah satu ciri orang munafik, yang akan ditempatkan dalam neraka pada tingkat yang paling dalam.

Mereka biasanya, jahil tentang agama. Kebodohan yang disengajakan lantaran dendam kesumat. Mungkin kebencian pada sesuatu tokoh agama, mereka mengambil tindakan dengan berlawan bukan sahaja dengan tokoh itu, tetapi berlawan dengan Islam. Bahkan tidak kurang dari mereka berbangga mampu menghalang dan menyusahkan insan-insan yang berusaha menegakkan agama Allah.
" Tengok cikgu tuh...kena tukar ke Sabah. Akulah yang pergi report tu."

Muslim melawan Islam, aneh bunyinya tetapi ada. Bahkan, ramai!.

Mereka tidak boleh menolong Islam,bahkan tiada keinginan mahu menolong, bagi saya tiada masalah dengan syarat duduk dipinggir diam-diam. Jangan mereka pula kedepan menghalang.

Bukan sahaja tidak mahu mengangkat, tetapi siap bergantungan menambah beban pada insan lain yang berusaha membawa "rumah".

Ia satu kecelakaan dalam bertindak, kecelakaan mengundang bala diSana.




Dan itu satu babak, ia tidak berhenti pada tahap itu. Ada lagi manusia yang lebih memedihkan hati. Mereka bukan jahil, bukan bodoh, bukan tidak tahu.

Siapa mereka?

Agamawan melawan agama

Jika mereka diatas itu jahil tentang agama, dan menjadi sebab melawan agama. Tidaklah pelik cuma menyedihkan. Tidak kurang tidak juga insan yang berstatus daie' berusaha menghapuskan Islam. Bahkan ada diantara mereka berijazah dalam bidang agama, tetapi bab melawan dan menghapuskan pejuang agama mereka kedepan.
Mereka anak tok imam

Mereka sekolah agama
Mereka ahli Badar sekolah
Mereka naqib Pusat Islam
Mereka mempunyai Ijazah Syariah

Jangan kita lupa sejarah lampau Mesir. Dizaman Anwar Saadat. Menjadi kader dan permata Ikhwanul Muslimin pada awal mudanya. Bila takhta dan kuasa dipegang, beliaulah menjadi diktator yang mendekamkan ramai alim ulama dan kader Ikhwanul Muslimin ke penjara di tengah padang pasir membahang. Tidak sedikit antara mereka menjadi syuhada dimucung senjata dan ditali gantung.




Ajal mereka...

Ditali gantung orang muslim

Dimucung senjata orang muslim

Allah boleh membolak balikkan hati manusia. Tiada siapa yang dapat pastikan bahawa akhiran hidup kita adakah masih Islam. Nauzubillah.

Mereka yang dahulu gencar bersama Islam berbalik menjadi musuh kepada Islam. Penyakit itu biasanya kena pada insanawal pembabitan dalam dakwah adalah insan yang ekstrim dalam pendekatan dan berlebihan. Bukan sedikit insan yang dia lukakan dalam menyatakan sikap. Jadi apabila membuang baju Islam, mereka berbalik melawan gerakan dakwah dengan sikap keras dan ekstrim juga.

" Ana pernah ada didalam tanzim tu. Memang teruk tarbiah dan pembawaan mereka. Pasal itu ana keluar. Ana nasihatkan nta, baik tak payahlah," racun pemikiran cuba disebar oleh seorang yang digelar "x-tanzim".

" Aku tidak boleh berperananlah. Jemaah ini lembab dan bengap," kader yang menunggu sahaja untuk disuap seperti lembu di padang ragut.

Sikap ini telah diceritakan secara jelas oleh Syeikh Fathi Yakan dalam bukunya Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah.

Sememangnya faktor kepincangan dakwah itu berpunca dari faktor jemaah tetapi ia bukan satu-satunya faktor kehancuran dakwah, melainkan datang sama dengan pakej lengkap iaitu manusia didalamnya. Hancur dakwah kerana insan didalam dakwah itu rosak dan hancur.

" Apabila pergerakan dapat menjadi penyebab bergugurannya seseorang itu dimedan dakwah, adil kiranya apabila dikatakan bahawa sebahagian besar penyebabnya berasal dari pribadi yang berguguran itu sendiri,"Fathi Yakan.

Mereka bukan sahaja tidak menolong mengangkat rumah, tetapi bergantungan bahkan juga menganggu insan yang mengangkat.

Bicara mereka, hanya bicara apa yang patut jemaah Islam itu berikan kepada mereka, bukan bicara apa yang mereka patut berikan kepada jemaah itu. Kitab ulama dihafal didalam benak otak, tetapi berbekas dihati tidak sama sekali. Melahirkan agamawan yang musuh pada Islam.

Kekadang, sikap itu lahir lantaran ada konflik pribadi antara daie'. Jadi ada diantara mereka mengambil pendekatan berusaha menghapuskan gerakan Islam yang pernah mereka perjuangkan.

"Jika mahu terasa hati, ana rasa Khalid Al-Walid lagi patut terasa hati. Dipecat oleh Umar ditengah perang berkecamuk. Tetapi jelas beliau tidak berperang kerana Umar, semuannya hanyalah untuk Allah ," saya cuba menjelaskan.

" Tapi ana bukan Khalid al-Walid, akh," jawap sahabat.

" Habis tu nta jadi Abu Jahal lah ye," cepat benar hati ini mendidih bicara dengan orang yang 'pandai'. Lagi pandai, lagi susah diajar. Hidup bertongkat langit.

Seperti orang melayu kita kata

"Cerdik tidak boleh ditumpang, bodoh tidak boleh diajar"

Ingat, tidak mahu tolong, jangan sekali-kali susahkan.

Besday Aku....sweet 20..(^_^)




nie plak kat cafe...maseh ana.pika,pikah,piroh ngn sumer yg t'libat secara langsung ataupun tak...he2





syoknye...he2..dpt hadiah..maseh hasnul ngn yana..:)



komuniti band...ala2 indie gitu..he2


posing sumer...jgn malu2..he2




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...